Pandeglang | Radar Bansel
Sebagai upaya menekan angka penyebaran Tuberkulosis (TBC), UPT Puskesmas Cigeulis meluncurkan inovasi GREBEK TB (Gerakan Pemeriksaan Tuberkulosis) di Kampung Cimandahan, Desa Waringinjaya, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Rabu, 1/7/2026.
Program ini menjadi langkah nyata Puskesmas Cigeulis dalam meningkatkan deteksi dini kasus TBC, memperluas edukasi kepada masyarakat, serta memastikan setiap penderita memperoleh pengobatan yang tepat dan tuntas. Pelaksanaan program melibatkan petugas kesehatan, kader TBC, pemerintah desa, serta berbagai unsur masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala BLUD UPT Puskesmas Cigeulis, H. Endang Mulyadi, SKM, mengatakan Tuberkulosis masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia masih menempati peringkat kedua negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Sementara itu, di Provinsi Banten, Kabupaten Pandeglang masih menjadi salah satu daerah yang terus berupaya menekan angka penemuan kasus maupun penularan penyakit tersebut.
Menurutnya, inovasi GREBEK TB merupakan strategi yang mengedepankan deteksi aktif di tengah masyarakat, sehingga penderita dapat segera ditemukan dan mendapatkan pengobatan sebelum menularkan kepada orang lain.
“GREBEK TB adalah langkah strategis kami untuk mengatasi penyebaran TBC di wilayah ini. Kami menyadari bahwa pencegahan dan pengendalian TBC memerlukan kerja sama lintas sektor serta keterlibatan aktif masyarakat. Melalui program ini, kami tidak hanya fokus pada edukasi dan pemeriksaan, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk turut serta dalam upaya ini,” ujar H. Endang Mulyadi.
Ia menjelaskan, inovasi GREBEK TB mencakup berbagai kegiatan, mulai dari penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, pemeriksaan dahak menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM), pelacakan kontak erat, hingga kunjungan rumah kepada kelompok yang berisiko tinggi terkena Tuberkulosis.
Selain itu, petugas kesehatan bersama kader TBC melakukan pemantauan secara intensif terhadap pasien agar menjalani pengobatan secara lengkap sesuai standar nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah putus obat yang dapat menyebabkan resistensi bakteri TBC.
“Kami berharap melalui GREBEK TB, masyarakat lebih sadar akan bahaya TBC dan pentingnya menjalani pengobatan hingga tuntas. Kolaborasi dengan pemerintah desa, sekolah, tokoh masyarakat, serta berbagai komunitas akan semakin memperkuat upaya kami dalam menekan angka penyebaran TBC,” katanya.
Tidak hanya mengandalkan pendekatan lapangan, Puskesmas Cigeulis juga memanfaatkan teknologi digital melalui pembentukan Grup WhatsApp GREBEK TB. Media komunikasi tersebut digunakan untuk mempercepat penyampaian informasi, pelaporan dugaan kasus, konsultasi, hingga koordinasi antara petugas kesehatan, kader, dan masyarakat.
Sejak mulai diterapkan, program GREBEK TB menunjukkan perkembangan positif. Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan meningkat, begitu pula jumlah kasus yang berhasil ditemukan dan segera mendapatkan pengobatan sesuai prosedur.
Ke depan, Puskesmas Cigeulis berkomitmen terus mengembangkan inovasi tersebut sebagai bagian dari percepatan eliminasi Tuberkulosis di wilayah kerjanya.
“Dengan semangat kebersamaan dan dukungan seluruh elemen masyarakat, kami optimistis GREBEK TB mampu membawa perubahan positif dalam upaya memutus rantai penularan penyakit ini. Kami berharap wilayah kerja Puskesmas Cigeulis dapat menuju kawasan yang bebas TBC,” tandas H. Endang Mulyadi.
Melalui inovasi GREBEK TB, Puskesmas Cigeulis berharap upaya pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat demi mewujudkan Kecamatan Cigeulis yang lebih sehat dan terbebas dari ancaman TBC.
(Y’Dzat)







Komentar
Silakan login untuk berkomentar.