Pandeglang | Radar Bansel
Semangat gotong royong masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat pedesaan. Hal itu ditunjukkan warga RT 002/RW 003 Kampung Cikiray, Desa Mendung, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang secara swadaya membangun rumah sederhana untuk Jarti (60), seorang lansia yang selama bertahun-tahun hidup seorang diri di rumah tidak layak huni.
Pembangunan rumah tersebut dilakukan secara bergotong royong oleh puluhan warga sejak beberapa hari terakhir sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Berbagai bantuan mengalir sesuai kemampuan masing-masing warga, mulai dari uang tunai, bahan bangunan, hingga tenaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah seorang tokoh masyarakat Kampung Cikiray, H. Usup Sukandi, mengatakan Jarti merupakan warga yang hidup sebatang kara dan selama ini menggantungkan kebutuhan sehari-harinya dari bantuan masyarakat sekitar.
“Yang menempati rumah itu tinggal sendiri, tidak punya siapa-siapa. Ibu Jarti makan juga selama ini dibantu oleh warga,” ujar H. Usup saat dikonfirmasi, Minggu (28/6/2026).
Menurutnya, kondisi rumah yang ditempati Jarti sudah sangat memprihatinkan dan nyaris roboh sehingga tidak lagi layak dihuni.
“Sudah bertahun-tahun tinggal di rumah yang kondisinya rusak berat. Karena itu masyarakat berinisiatif membangun rumah secara gotong royong dan swadaya,” katanya.
H. Usup menjelaskan, sebelumnya persoalan tersebut telah disampaikan kepada pihak terkait. Namun, bantuan pembangunan rumah belum dapat direalisasikan karena status lahan yang ditempati bukan merupakan hak milik pribadi.
“Sudah pernah dilaporkan, tetapi terkendala status lahan yang bukan milik pribadi,” jelasnya.
Tidak ingin menunggu lebih lama, warga kemudian sepakat menggalang bantuan secara swadaya. Bentuk sumbangan yang diberikan pun beragam, mulai dari uang receh, paku, kayu, bambu, hingga hasil kebun seperti pisang dan singkong.
“Semua membantu sesuai kemampuan. Ada yang menyumbang seribu atau dua ribu rupiah, ada yang membawa bahan bangunan, ada juga yang memberikan hasil kebun dan tenaga. Yang penting semua ikut berpartisipasi,” tutur H. Usup.
Ia menambahkan, meski Jarti masih memiliki keluarga, kerabat terdekatnya berada di luar Pulau Jawa sehingga selama ini kesehariannya lebih banyak bergantung pada kepedulian warga sekitar.
Pembangunan rumah tersebut melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, pengurus DKM, pemuda, hingga warga dari berbagai kalangan.
“Alhamdulillah semuanya bergerak. Tokoh masyarakat, DKM, pemuda, dan warga satu kampung hadir membantu. Inilah semangat kebersamaan yang ingin terus kami jaga,” ujarnya.
H. Usup berharap budaya gotong royong seperti ini tetap dipertahankan dan menjadi solusi ketika ada warga yang mengalami kesulitan.
“Harapan kami masyarakat tetap kompak. Kalau nanti ada warga lain yang membutuhkan bantuan, kita akan bergerak bersama lagi. Semangat saling membantu harus terus hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Aksi kemanusiaan yang dilakukan warga Kampung Cikiray menjadi bukti bahwa nilai gotong royong masih mengakar kuat. Di tengah berbagai keterbatasan, kepedulian dan kebersamaan masyarakat mampu menghadirkan harapan baru bagi warga yang membutuhkan.
(Dzat)








Komentar
Silakan login untuk berkomentar.